Klub Berita Kegiatan Profil Hall Of Fame Fixtures & Result Artikel Wawancara Fun Stuff Galeri Fans Club
 
UMUM
TIPS LATIHAN
Banner Website Djarum Super
 
Membangun Sentra, Mencetak Juara (2) - Sigit Budiarto, Asa Menuju Olimpiade 2008

Menjadi anggota sebuah klub ternama adalah impian seluruh pemain bulutangkis. Bagaimana tidak, prestasi atlet kontan terangsang ketika mereka ditangani pelatih-pelatih ternama di klub tersebut. Ujung dari harapan itu, yakni menjadi pemain andalan di Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) PBSI. Lurus sudah jalan sebagai pemain, jika arahnya seperti itu.

Atlet-atlet dari PB Djarum adalah penyumbang pemain Pelatnas dalam jumlah besar. Suplai tersebut tak pernah berhenti sepanjang tahun. Saat ini, misalnya, tercatat sedikitnya terdapat 19 pemain dan 4 pelatih PB Djarum yang telah berlabuh di Pelatnas yang bermarkas di Cipayung, Jakarta Timur. Kawah Candradimuka pebulutangkis Indonesia ini menjadi saksi akan kebesaran atlet-atlet Djarum sepanjang masa.

Di antara belasan atlet PB Djarum itu, nama Sigit Budiarto muncul sebagai ikon Djarum di Pelatnas. Pemain asal Sleman, Yogyakarta, ini termasuk penghuni Pelatnas terlama dengan prestasi terbaik di sektor ganda. Berpasangan dengan Chandra, berkali-kali Sigit memenangi aneka turnamen bergengsi. "Sepertinya semua turnamen sudah saya menangi, kecuali Olimpiade," cetus Sigit.

Ketika diajak mengenang masa-masa bersama PB Djarum belasan tahun lalu, nada Sigit agak melemah. Matanya menerawang menelusuri jejak-jejak manis di Kalitan, Kudus, dulu. Sigit diterima PB Djarum tahun 1988, ketika berusia 13 tahun. Dia berhasil memenangi seleksi dengan menyisihkan ratusan pesaing ketika itu. "Pertama kali saya merasakan latihan yang sangat berat di PB Djarum," ungkapnya.

Pukul 15.00 mereka harus sudah latihan lari dengan tujuan Gunung Muria atau Kali Yitno. Kalau berlari pelan, mobil pelatih sudah siap-siap memberi klakson. Namun, Sigit menyadari itulah latihan yang sebenarnya. Sigit pun masih ingat, betapa panasnya GOR Bulutangkis Kaliputu. Tanpa disadarinya, rasa panas tersebut turut membentuk permainan menawannya.

Dia juga senang berada di Kudus, karena bisa berlatih di antara pemain-pemain serta pelatih yang telah melegenda di dunia bulutangkis. Motivasinya muncul dengan ilmu-ilmu yang diberikan oleh para senior tersebut. "Saya sering termotivasi ketika menyaksikan senior berlatih. Haryanto Arbi misalnya, ketika sesi latihan belum dimulai dia sudah latihan sendirian," ujarnya.

GARA-GARA KLETEAN

Peristiwa yang tak pernah dilupakannya selama berada di mess adalah saat dihukum tak boleh makan nasi mess. Namanya anak-anak remaja, iseng mereka kadang muncul. Pada suatu malam, sehabis makan, mereka kletean (bermusik dengan alat makan, piring, sendok, garpu dan gelas). "Besoknya kami dipanggil kepala mess, Pak Mulyo. Kami dihukum tak boleh makan nasi mess selama tiga hari," ungkapnya terkekeh-kekeh.

Dia juga ingat betul betapa sepinya Kaliputu saat di ujung tahun 1980-an itu. Kalau hendak berpergian ke luar kompleks asrama, maka harus menggunakan becak atau sepeda.

Tahun 1994, Sigit yang lebih condong ke ganda, pindah ke PB Djarum Jakarta yang spesialis melatih pemain ganda. Dari sini, dia berhasil menjuarai sejumlah kejuaraan yunior. Tahun 1997, dia ditarik ke Pelatnas, dan berkali-kali mengukir prestasi dunia. "Prestasi tak terlupakan adalah juara dunia tahun 1997 bersama Chandra. Soalnya, waktu itu saya baru masuk Pelatnas," ujarnya.

Sigit juga tak lupa dengan kenangan manis memenangi Thomas Cup 1998 di Hongkong dan mempertahankannya dua tahun kemudian di Malaysia. "Saya masih ingin bertahan dua tahun lagi sebagai pemain. Dan, kalau bisa ikut Olimpiade 2008 di Beijing dan menjadi juara di sana. Karena itulah target terbesar yang tersisa dari impian saya sebagai pemain," harapnya.

Untuk semua keberhasilannya itu, Sigit tak akan pernah melupakan jasa Djarum. Baginya, Djarum sangat berperan menjadikannya sebagai pemain hebat seperti sekarang. PB Djarum sangat perhatian kepada pemain dari yang kecil hingga yang besar, tidak pilih-pilih siapa atlet itu. Suasananya sangat kekeluargaan. "Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan saya jalan untuk berprestasi lewat PB Djarum," ujarnya.

Hingga sekarang, ikatan Sigit dengan PB Djarum masih sangat kuat. Sudah menjadi budaya turun temurun bagi mereka yang telah berhasil untuk menyambangi PB Djarum dan memberikan motivasi bagi adik-adik di klub. "Karena dulu, saya juga menerima semua itu dari para senior," ujarnya.

Teruskan teladan mu, Git!




 
Banner Club
Banner Yonex
 
 
Copyrights © 2007 PT DJARUM. All Rights Reserved.