Prestasi PB Djarum bagi kejayaan bulutangkis Indonesia di pentas dunia, tak melulu disumbangkan oleh para "arjuna" nya seperti Liem Swie King, Hariyanto Arbi, Eddy Hartono, Gunawan, dan Sigit Budiarto. Srikandi-srikandi bulutangkis PB Djarum juga tak kalah jasanya dalam mengharumkan nama Indonesia.
Pada 1970 hingga 1980-an, misalnya, Ivana Lie menjadi ikon bulutangkis putri Indonesia. Ia tercatat empat kali menjadi tulang punggung tim Uber Cup Indonesia (1978, 1981, 1984 dan 1986). Semua pemain terkuat dunia pada eranya pernah ditaklukkan Ivana. Dia menjinakkan Lene Koppen,Kristen Larsen (Denmark), Hiroe Yonekura (Jepang), bahkan Li Lingwei dan Han Aiping (Cina).
Seperti Liem Swie King, ikon bulutangkis putra Indonesia di era 1970-1980an, Ivana pun terbukti andal bermain ganda. Salah satu prestasi terbaiknya, yakni saat memenangkan gelar Piala Dunia 1985-berpasangan dengan Christian Hadinata.
Lepas era Ivana, PB Djarum kembali mengorbitkan dara-dara manis sekelas Yuni Kartika, Yuliani Santosa, Minarti Timur, dan Zelin Resiana di dekade1990-an. Kontribusi mereka begitu terasa di ajang-ajang bergengsi seperti perebutan Uber Cup hingga Olimpiade.
Pada 1994, trio Yuni, Yuliani, dan Zelin, misalnya, sukses mengantar Indonesia merebut Uber Cup untuk pertama kalinya sejak 1975. Dua tahun berikutnya, Yuliani dan Zelin turut mempertahankan lambang supremasi bulutangkis beregu putri tersebut di Hongkong.
"Salah satu yang membuat saya terkesan dengan Yubing (panggilan Yuliani), yakni kengototannya dalam bermain. Meski badannya kecil, ia tak gampang menyerah," ungkap Liang Chiu Sia, mantan pelatih putri Indonesia, suatu ketika.
Yuliani juga sempat memenangkan gelar-gelar individual seperti Kejuaraan Asia 1991, Polandia Open 1991, Taiwan Open 1992, dan Swiss Terbuka 1993. Di sisi lain, Zelin tercatat dua kali merajai Indonesia Open (1996 dan1997), berpasangan dengan Eliza.
Prestasi di nomor perorangan tertinggi yang berhasil direbut atlet putri PB Djarum, yakni medali perak Olimpiade Sydney 2000 atas nama Minarti Timur- saat berpasangan dengan Trikus. Di ajang Indonesia Terbuka, Minarti bahkan lima kali menjadi raja di nomor ganda campuran (1996, 1997,1998, 1999, dan 2002).
Seperti Yubing, Minarti juga dikenal tak gampang menyerah, sebuah karakter yang menjadi ciri umum atlet-atlet binaan PB Djarum. Itulah yang membuat ia dapat bertahan begitu lama dan meraih medali perak di Olimpiade.