Untuk mencetak prestasi tinggi, tentu dibutuhkan fasilitas yang memadai. Manajemen PT Djarum menyadari hal itu. Karenanya, untuk memenuhi tuntutan tersebut, dibukalah sarana bulutangkis terpadu di bilangan Kaliputu, Kudus, sebagai kawah candradimukanya para pebulutangkis Djarum dan Indonesia di masa depan. Pusat pelatihan itu mulai digunakan sejak 1982.
Sebagian atlet dari generasi pertama (Liem Swie King Cs) tak bisa menjadi penghuni regular di Kaliputu. Pasalnya, mereka lebih sibuk berkutat di pelatnas di Jakarta. Tapi, atlet-atlet dari generasi berikutnya seperti Hariyanto Arbi, Hermawan Susanto, Eddy Hartono, Fung Permadi, Hendrawan, Kristin Yunita, dan Sigit Budiarto memang dibesarkan lewat gemblengan ‘Kaliputu'.
GOR Djarum di Kaliputu dibangun atas pijakan untuk menciptakan sistem pembinaan yang lebih profesional, yang pada muaranya akan melahirkan atlet-atlet bermutu. Misalnya dari penyaringan calon pemain lewat jalur pemasalan, penyaringan bibit (seleksi), dan pemanduan bakat. Metode pembinaannya pun dilakukan dengan program yang integral, sesuai perkembangan zaman, dan mengacu pada pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang dimaksud integral, semua atlet yang dibina di Kaliputu diasramakan dan disekolahkan di Kudus. Karena, bagaimana pun, pendidikan bagi atlet tetap penting sebagai bekal mereka di kemudian hari kelak setelah tak lagi menjadi atlet.
Untuk memperluas wawasan dan kemampuan pelatih, Djarum secara rutin sejak 1986 mengadakan seminar tentang pelatihan. Pada tahun itu juga, para staf pelatih dan pembina diberangkatkan ke Singapura untuk mengikuti seminar tentang Psychological Preparation for Big Sport. Pada kesempatan dan tempat yang sama, mereka pun mengikuti seminar International Sport Science Conference. Seminar-seminar sejenis di tanah air, tentu tak dilewatkan pula. Diramu dengan pengalaman mantan juara dunia bulutangkis Hendra Kartanegara alias Tan Joe Hok-yang sudah kenyang pengalaman internasional-bersama Hendra Sugita alias Tan Thiam Beng-juga mantan pebulutangkis nasional-disamping Prof. Dr. Singgih D. gunarsa-yang ahli dalam psikologi olahraga-serta dr. Budi Rahardjani-seorang ahli ilmu faal-ditambah dengan Christian Hadinata-mantan spesialis ganda Indonesia- maka tak diragukan lagi pembinaan dengan pendekatan ilmiah yang coba diterapkan PB Djarum dapat terlaksana dengan baik.
SELEKSI KETAT
Terkait dengan hal di atas, maka proses penyeleksian pemain untuk masuk Kaliputu dilakukan secara ketat. Di sini pembinaan dilakukan pada pemain-pemain pilihan setelah ditetapkan kriteria tersendiri bagi atlet yang akan dibina. Selain teknik dan fisik, faktor umur, tinggi badan, bakat, kemampuan intelektual, keseimbangan psikologisnya, sampai sejauh mana dukungan orang tua, menjadi pertimbangan PB Djarum sebelum memutuskan untuk membina seorang pemain.
Bagi pemain berusia di bawah 12 tahun, disediakan waktu khusus latihan di hari Rabu dan Sabtu. Mereka boleh datang dari mana saja, tidak diasramakan, dan berlatih bersama di GOR Bulutangkis Djarum (model pelatihan ini untuk membantu pemasalan bulutangkis). Bagi pemain yang lolos lewat penyaringan, diberikan kesempatan bergabung dalam kelompok inti yang disediakan asrama di komplek GOR Bulutangkis Djarum di Kaliputu tersebut. Mereka ini adalah pemain yang sudah memiliki teknik bermain cukup baik yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Selain lewat jalur seleksi tersebut, pemain-pemain inti juga direkrut dari jalur pemanduan bakat (talent-scouting), yaitu lewat pengamatan para pembina PB Djarum di sirkuit atau kejuaraan tingkat nasional. Maka, GOR Bulutangkis Djarum di Kaliputu tak hanya berisi pemain-pemain asal Jawa, tapi juga dari Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan daerah lainnya. Calon atlet yang diambil adalah mereka yang diprediksi dapat diasah menjadi pemain top.
"Untuk mendapatkan calon pemain dari tingkat pemula, kami mengadakan seleksi terbuka setiap tahunnya di Kudus. Sementara untuk mereka yang di atas pemula, biasanya kami dapatkan lewat jalur pemanduan bakat," ujar FX Supanji, Ketua Umum POR Djarum (pada saat artikel ini dibuat). Menurutnya, kriteria usia, postur tubuh, teknik, fisik, dan mental dijadikan landasan dalam pemilihan atlet. "Biasanya, dari ratusan atlet yang ikut seleksi atau program scouting, hanya belasan jumlahnya yang kami terima. Itu pun disesuaikan dengan kuota yang kami butuhkan. Yang paling krusial, memang, untuk tes mental (psikologi atlet). Ini fase tes terakhir setelah si atlet dinyatakan lulus tes fisik dan teknik. Kami butuh waktu satu sampai dua minggu untuk mengamati perkembangan psikologi mereka selama mengikuti TC. Setelah itu, baru kami putuskan apakah si pemain siap secara mental atau tidak untuk bergabung dengan PB Djarum," ucapnya kembali.
GOR Djarum di Kaliputu memiliki 11 lapangan bulutangkis yang berjajar dari utara ke selatan dan empat lapangan yang membujur di timur dan barat. Tempat latihan itu beralasankan parket (papan). Luas lapangan 30 x 90 meter dan diterangi oleh 12 baris lampu berkekuatan 2000 watt. Sarana tersebut juga dilengkapi weight training dan fitness yang terletak di dalam ruangan khusus seluas 6 x 15 meter dan berpendingin udara.
LATIHAN, SEKOLAH, DAN PROMOSI/DEGRADASI
Bagi PB Djarum, membina anak didik dari yang berusia belia hingga mereka yang tumbuh dewasa bukanlah perkara mudah. Karena itu, para atlet yang terpilih masuk TC di Kaliputu, praktis menjadi tanggung jawab PB Djarum. Tak ayal, hal-hal seputar kehidupan atlet menjadi perhatian pelatih maupun pengurus. Dalam hal ini, PB Djarum bertindak sebagai orang tua kedua bagi para atlet. Karenanya pula, PB Djarum turut bertanggung jawab atas aspek di luar pengasahan kemampuan teknis atlet seperti pendidikan formal (sekolah). Pasalnya, sebagian besar atlet yang dibina di Kaliputu adalah mereka yang masih di usia sekolah.
"Sekolah merupakan keharusan di klub ini. Karena, tak semua pemain bisa menjadi atlet andal. Jadi, ketika dinyatakan gagal menjadi atlet, mereka bisa melajutkan sekolah untuk menunjang masa depannya," ungkap pimpinan PB Djarum. Jadwal latihan yang ketat tentu menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan sekolah anak didik ini. Karena itu, PB Djarum mencoba mengkoordinasikan dengan Depdikbud Kabupaten Kudus agar mendapatkan dispensasi bagi anak didik mereka.
Alhmadulillah, hingga saat ini Depdikbud mendukung program PB Djarum tersebut. Termasuk memberikan izin ketika para atlet meninggalkan sekolah untuk beberapa hari karena mengikuti turnamen atau kejuaraan. "Kami telah bekerja sama dengan SD Barongan II, SMP Taman Dewata, dan SMA Kramat untuk urusan sekolah atlet. Mereka diperbolehkan masuk lebih siang," ungkap pelatih Hastomo Arbi, pahlawan Piala Thomas 1984, yang kini mengabdi untuk PB Djarum.
Pemberian dispensasi dari sekolah tersebut memang dimungkinkan karena jumlah atlet PB Djarum Kudus cukup banyak. Jadi, mereka dibukakan kelas khusus dengan porsi dan jam pelajaran yang khusus pula. "Untuk atlet yang duduk di bangku SMP, misalnya, jam belajar mereka adalah dari 09.30 hingga 13.00 WIB. Karena, paginya dari jam 06.30 hingga 09.00 mereka latihan. Sementara yang siswa SMA, pola sekolahnya lebih unik, yakni tiga hari masuk dan tiga hari libur," urai Hastomo. Terkait dengan jam sekolah itu pula, pengurus dan pelatih PB Djarum membagi shift latihan menjadi empat sesi. Sesi latihan pagi berdurasi dari pukul 06.30-09.00 WIB dan 08.00-11.00 WIB. Sementara untuk sesi latihan sore/malam hari berlangsung dari 15.00-18.00 dan 18.00-21.00 WIB.
"Kemudahan-kemudahan yang diberikan sekolah, sejauh ini, tidak mengganggu aktivitas atlet. Mereka umumnya cepat menyesuaikan diri. Jadi, tak ada masalah berarti," timpal Ellen Angelina yang bersama Hastomo Arbi menangani 8 pemain putri. Mengingat padatnya jadwal harian para atlet, yakni antara latihan dan sekolah, maka PB Djarum sangat memperhatikan kondisi kesehatan mereka. Di antaranya, tentu, dengan memberikan suplai konsumsi yang sehat dan memenuhi kebutuhan gizi mereka.
Untuk memenuhi kebutuhan gizi sebanyak 3500 kalori/hari, dan menjadi 4.000 kalori/hari saat memasuki TC, menu atlet telah disusun sedemikian rupa. Dengan fasilitas pembinaan yang demikian lengkap dan terpadu, bagaimana jika seorang atlet tak juga berhasil meningkatkan kemampuannya? "Kami memberlakukan sistem promosi-degradasi setiap tahunnya. Jadi, jika dalam seleksi seorang atlet dinyatakan mentok, maka dengan berat hati mereka dipulangkan," ungkap Ellen, yang sempat keluar masuk pelatnas pada kurun 1995 hingga 2002 itu. Penjelasan dari PB Djarum, klausul pemulangan atlet yang gagal sudah disepakati secara tertulis dengan orangtua atlet sebelum anaknya masuk TC. Cara ini, disamping untuk meningkatkan iklim kompetitif di kalangan atlet, pun untuk memberi kesempatan kepada yang gagal untuk memperbaiki diri atau mengembangkan karirnya di bidang yang lain. Pengalaman ini pernah terjadi pada penyanyi Jane Pattikawa. Ia sebelumnya pernah ikut berlatih bulutangkis di PB Djarum. Tapi, dalam perkembangannya terlihat bahwa bakatnya ternyata lebih menonjol di bidang lain, yakni menyanyi. Sehingga pengarahan dan pemberian kesempatan pun ditujukan ke sana.
