Klub Berita Kegiatan Profil Hall Of Fame Fixtures & Result Artikel Wawancara Fun Stuff Galeri Fans Club
 
UMUM
TIPS LATIHAN
Banner Website Djarum Super
 
Jejak & Langkah PB Djarum (3) - Fenomena Tujuh Pendekar

Setelah berdiri dan melakukan pembinaan secara serius, PB Djarum pun memetik buah prestasi lewat para pebulutangkis mereka, baik di level nasional maupun internasional. Di tingkat nasional, keberhasilan Swie King sebagai juara nasional pada 1975, menjadi motor bagi rekan-rekannya yang lain. Hadiyanto muncul menjadi juara tunggal putra di arena PON IX 1977 dan turut menyumbang emas di nomor beregu putra bersama Liem Swie King dan Kartono.

Setahun kemudian (1978), di Kejuaraan Nasional (perorangan), Hadiyanto kembali menjadi nomor satu di nomor tunggal, sementara Swie King/Kartono melengkapinya dengan medali emas di nomor ganda putra. Pada PON X 1981, gilirian Hastomo Arbi yang naik ke podium juara. Ia juga mengantar beregu putra Jateng meraih emas. Di PON XI 1985, lewat bendera Jateng, Djarum meneruskan tradisi emas tersebut melalui nomor beregu dan ganda putra (Swie King/Kartono).

Dari pertengahan 1970-an hingga pertengahan 1980-an, prestasi "Pendekar Berpedang Raket" PB Djarum memang sedang bagus-bagusnya. Bahkan, di era itu, pembinaan yang dilakukan PB Djarum di sektor putri pun memperlihatkan hasil menggembirakan. Terbukti, Ho Djay Ging, Ivanna Lie, dan Kho Mei Hwa sukses menjadi juara tunggal putri di Kejuaraan Nasional (beruntun) 1980, 1983, 1987. Pada kurun waktu yang sama, para pebulutangkis PB Djarum juga berkibar di forum internasional dengan lambang burung garuda di dada mereka. Dan, Swie King lagi-lagi jadi lokomotif prestasi PB Djarum untuk Ibu Pertiwi. Ia menjadi juara tunggal putra pada Invitasi Bulutangkis Dunia di Malaysia 1975.

Setelah gagal di All England (1974, 1975, dan 1976), Swie King akhirnya berhasil memenangkan ajang yang disebut-sebut sebagai kejuaraan dunia tak resmi itu pada 1978, 1979, dan 1981. Sebetulnya, pada All-England 1976, di saat Swie King berusia 20 tahun, ia sudah mencapai kematangan untuk menjadi juara. Sayang, di final ia kalah dari Rudy Hartono yang akhirnya membuat rekor delapan kali juara All-England. Sementara pasangan Kartono/Heryanto menambah pundi-pundi gelar anak Djarum di All England pada 1981 dan 1984.

Lalu, di ajang Asian games 1978 di Bangkok, Swie King juga menyumbang dua medali emas bagi Indonesia lewat nomor tunggal dan beregu putra. Hastomo Arbi menyusul menjadi juara tunggal SEA Games 1979. Di ajang Piala Dunia, Swie King empat kali jadi juara, sekali tunggal putra (1982) dan tiga kali ganda (1984, 1985, 1986).

Kehadiran Christian Hadinata yang bergabung dengan PB Djarum mulai 1980, kian memperkaya gelar yang dipersembahkan anak-anak PB Djarum bagi ‘Merah-Putih'. Ia jadi juara dunia ganda putra dan campuran pada 1980 (berpasangan dengan Ade Chandra dan Imelda Wiguna). Kemudian bersama pasangan seklubnya, Ivanna Lie, Christian jadi juara ganda campuran di Asian games 1982 dan Piala Dunia 1985. Jauh sebelumnya Christian sudah lebih dulu jadi langganan juara di All-England (1972, 1973, dan 1979).

 

PRESTASI LUAR BIASA

Pada rentang dekade (1975-1985) tersebut, kekuatan dan dominasi pebulutangkis putra PB Djarum memang luar biasa. Tak ayal di kejuaraan beregu bergengsi Thomas Cup, Indonesia selalu diperkuat pemain-pemain dari PB Djarum. Dominasi anak-anak PB Djarum di Thomas Cup mencapai puncaknya ketika perebutan lambang supremasi beregu putra itu digelar di Kuala Lumpur pada 1984. Tercatat tujuh dari delapan anggota tim Thomas Cup Indonesia saat itu berasal dari PB Djarum. Mereka adalah Liem Swie King, Kartono, Christian Hadinata, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Heryanto, dan Hadibowo. Satu-satunya pebulutangkis bukan asal Djarum saat itu adalah Icuk Sugiarto. Jadi terasa sangat mengesankan, karena tim Indonesia ‘versi Djarum' ini berhasil menjadi juara dengan mengalahkan juara bertahan Cina 3-2 di laga final yang ketat.

Keberhasilan ini juga tak lepas dari tangan dingin Tan Joe Hok, yang saat itu ikut tergabung dalam barisan pelatih tim Thomas Cup Indonesia. Hastomo Arbi yang sebelumnya kurang dijagokan, justru tampil sebagai pahlawan. Berhadapan dengan Han Jian yang memiliki nama besar, Hastomo yang bertubuh kecil ini akhirnya menang dalam tiga set: 14-17, 15-6, dan 15-8. Kemenangannya itu membuat kubu Indonesia tetap membuka peluang setelah dua tunggal lainnya, Liem Swie King dan Icuk Sugiarto, dikalahkan Luan Jin dan Yang Yang. Walaupun skor masih tertinggal 1-2, dua ganda Indonesia lainnya menjadi bersemangat. Christian/Hadibowo dan Liem Swie King/Kartono merebut dua partai sisa hingga membuat Indonesia menang 3-2. Dramatis!

Sepulangnya dari tanah air, Hastomo langsung dielu-elukan dan menjadi pujaan masyarakat. Berbagai hadiah mengalir dan surat yang datang ke pelatnas, tempatnya bermukim, dalam tempo satu bulan menjadi ribuan jumlahnya. Hastomo pun sempat masuk dapur rekaman, bernyanyi bersama salah satu biduanita.




 
Banner Club
Banner Yonex
 
 
Copyrights © 2007 PT DJARUM. All Rights Reserved.