Klub Berita Kegiatan Profil Hall Of Fame Fixtures & Result Artikel Wawancara Fun Stuff Galeri Fans Club
 
UMUM
TIPS LATIHAN
Banner Website Djarum Super
 
Jejak & Langkah PB Djarum (2) - PB Djarum menjawab Tuntutan

Di Bitingan Lama, Liem Swie King terlihat menonjol di antara sekian banyak karyawan yang berlatih. Tak heran, perkembangan remaja kelahiran Kudus, 28 Februari 1956 itu diperhatikan terus menerus. "Melihat penampilan Swie King, pimpinan perusahaan Djarum pun langsung mengatakan, ‘Kalau anak itu dilatih dengan benar, di kemudian hari ia akan jadi pemain besar.' Ternyata feelingnya terbukti.

Seorang pimpinan perusahaan sendiri, bahkan ikut menangani Swie King dalam berlatih. Beliau, misalnya, menginstruksikan kepada Swie King untuk latihan servis dengan sasaran ke sudut-sudut jauh base-line. Di setiap sudut ia tempatkan sebuah tong kecil dan setiap bola servis yang masuk ke tong diperhitungkan jumlahnya. Setiap hari begitu terus, 50 hingga 100 kali servis. Pokoknya, persentase masuknya harus meningkat. Beliau mengerti betul bahwa pemain menyerang seperti Swie King harus memiliki servis yang akurat.

Saat bergabung menjadi keluarga Djarum pada 1971, usia Swie King baru berusia 15 tahun. Tapi, bukan berarti pada usia itu Swie King baru mengenal bulutangkis. "Saya bermain bulutangkis sejak kecil atas dorongan orangtua di kota kelahiran saya Kudus," aku Swie King. Witopo, orangtua Swie King, seperti halnya pimpinan perusahaan Djarum, adalah juga penggemar berat bulutangkis. Tak heran bila di rumahnya ada lapangan bulutangkis.

Witopo tergolong ketat dan keras dalam mendidik Swie King. Ia selalu berada di sisi anaknya kemanapun dan kapan pun Swie King bermain serta berlatih. " Sang pimpinan perusahaan pun sering memperingatkan agar Pak Witopo tidak keseringan meneriaki anaknya itu jika ia melakukan kesalahan di lapangan. Setiap orang tua pasti ingin anaknya sempurna. Hanya saja cara penyampaiannya kurang tepat.

Menurut orang-orang terdekatnya di Kudus, keberhasilan Swie King jadi pemain top lantaran semangat serta ketekunannya dalam berlatih, disamping peranan dari ayahnya yang senantiasa memberikan motivasi dan spirit kepadanya. "Itu yang tak dimiliki pemain-pemain sekarang. Kalau dulu, begitu selesai latihan, Swie King akan latihan lagi di rumah. Jadi, ia punya kemampuan dua kali lipat dibandingkan pemain-pemain lain," ujar Saiful Arisanto.

Untuk menguji hasil latihan, Swie King bersama karyawan yang mempunyai keterampilan serupa, sering melakukan uji coba atau lawatan ke luar daerah Kudus. Tak mengherankan, karena Djarum sudah mempunyai hubungan operasional dengan daerah lainnya seperti Semarang, Pekalongan, Tegal, Salatiga dan Surabaya. Hebatnya, dalam setiap lawatan itu, klub Djarum selalu menang.

AMBISI MENCETAK JUARA DUNIA

Swie King memang berasal dari keluarga bulutangkis. Dua kakak perempuannya, Megah Idawati dan Megah Inawati, pernah memperkuat tim Piala Uber Indonesia 1965. Kakak iparnya, Agus Susanto, juga pernah menjadi andalan Indonesia di tim Piala Thomas 1967. Pimpinan perusahaan kemudian meminta Agus Susanto melatih Swie King lebih serius.

Pada 1972, di Piala Munadi, Swie King berhasil keluar sebagai juara tunggal putra yunior. Itu adalah gelar pertama Swie King di dunia bulutangkis. Setahun berikutnya, Swie King berhasil keluar sebagai runner-up di PON 1973. Sebuah lompatan prestasi tersendiri bagi seorang Swie King. Pada tahun itu juga PB PBSI memanggil King ke Pelatnas di Senayan.

Bergabung dengan Pelatnas, bagi Swie King, tentu menjadi kebanggaan sekaligus kepercayaan. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meningkatkan sepak terjangnya di kancah perbulutangkisan nasional dan internasional. Pimpinan perusahaan Djarum, turut pula memperluas wawasan Swie King muda dengan mengajaknya menyaksikan pertandingan bulutangkis di Bangkok. Perhatian ekstra yang diberikan beliau ini kepada Swie King, semata karena beliau ingin mencetak seorang juara dunia bagi Indonesia. Setelah menyaksikan berbagai pola permainan kelas dunia di luar negeri, beliau pun mendorong Swie King berlatih lebih keras lagi.

Kekaguman publik nasional kepada Swie King mulai terpatri setelah ia muncul sebagai juara nasional pada1975 dengan mengalahkan pemain-pemain top seperti Iie Sumirat dan Tjuntjun. Swie King tak pernah ingin jadi nomor dua dalam hal apa pun. Misalnya saat latihan lari dari Kudus ke gunung Muria, pertama kali Swie King menempati urutan ketiga. Diam-diam ia berlatih sendiri. Ketika semua karyawan diminta berlari kembali ke gunung Muria, Swie King finish di urutan pertama. Itulah contoh kegigihan dari seorang juara.

ORGANISASI DISEMPURNAKAN

Awal kesuksesan Swie King tersebut, tak pelak, mendorong PB Djarum untuk lebih serius menata organisasinya ke arah yang lebih profesional. Mereka bertekad melakukan pembinaan yang lebih terarah. Tentu saja dengan dukungan total dari CEO Djarum Kudus. Apalagi, saat itu Ketua Umum PB PBSI Soedirman pernah meminta kepada Djarum agar membuat semacam Pelatnas kedua bagi para pemain bulutangkis, di samping pelatnas yang sudah ada di Jakarta. Hal ini terjadi setelah pemain-pemain Djarum membuat kejutan dengan mengalahkan pemain-pemain top saat itu seperti Iie Sumirat dan Tjuntjun. Atas dasar itulah jajaran direksi menyempurnakan kepengurusan PB Djarum Kudus pada 1974.

Agus Susanto dan Koesmanto merupakan pelatih yang pertama kali mengasah para pemain di PB Djarum dalam periode pertama sampai tahun 1973. Sebagai bentuk komitmen dan totalitas mencetak pebulutangkis-pebulutangkis berprestasi, PB Djarum pun melebarkan sentra pembinaannya ke Semarang, Jakarta, dan Surabaya.

Pemusatan latihan PB Djarum di Semarang dibuka pada 1976. Tujuan utamanya adalah melakukan pembinaan bulutangkis putri yang mulai berkembang ketika itu. Sementara itu, pemusatan latihan PB Djarum di Jakarta dibuka pada 1985 kemudian disusul Surabaya mulai 1986.

FOKUS KE KUDUS DAN JAKARTA

Pada perkembangannya, tentu dengan mengevaluasi perjalanan organisasi dan aspek pembinaan atlet yang lebih baik, PB Djarum pun akhirnya pada keputusan untuk menciutkan sentra pembinaan di dua tempat saja, yakni Kudus dan Jakarta. Setelah dipertimbangkan dengan masak, ternyata terpencarnya pusat latihan ke beberapa daerah tidak berkembang positif. Cara seperti itu tidak efektif dan tidak efisien. PB Djarum kemudian memfokuskan pelatihan di dua tempat (Kudus dan Jakarta) karena terpecahnya konsentrasi, banyak hal tidak terkontrol, serta memerlukan dana yang lebih besar.

Dengan alasan agar lebih fokus pula, maka PB Djarum pun menetapkan sentra pembinaan di Jakarta sebagai basisnya pelatihan untuk pemain ganda (putra, putri, dan campuran) sejak 1989/1990. Kebijakan ini juga tak lepas dari posisi Christian Hadinata, pelatih ganda Djarum saat itu, yang berdomisili di Jakarta dan sibuk menangani pemain pelatnas. Dengan dipindahnya pembinaan ganda di Jakarta, tentu memudahkan Christian untuk membagi waktunya antara kebutuhan pelatnas dan klub. Christian sendiri sekarang lebih berperan sebagai instruktur para pelatih ganda PB Djarum di Jakarta, yang kini dipercayakan kepada para mantan asuhannya seperti Ade Lukas, Antonius, dan David Pohan.

Dengan ditetapkannya basis Jakarta sebagai sentra pembinaan khusus ganda, maka dengan sendirinya pelatihan di Kudus lebih dikonsentrasikan untuk membina pemain-pemain tunggal. Sistem ini lebih efektif dan efisien, baik dari sisi budget maupun orientasi dan target pembinaan. Tim di Jakarta selalu melakukan koordinasi dengan tim di Kudus. Bila ada atlet di Kudus yang lebih berbakat main ganda, maka ia akan ditarik ke Jakarta.

Terkait dengan hal itu pula, maka sejak 1990 organisasi PB Djarum kembali disempurnakan sehingga tak ada lagi penyebutan istilah PB Djarum Kudus dan PB Djarum Jakarta. Yang ada hanya satu institusi, yakni: PB Djarum.




 
Banner Club
Banner Yonex
 
 
Copyrights © 2007 PT DJARUM. All Rights Reserved.